Selasa, 04 Agustus 2015

20.000 Hektar Lebih Tanaman Padi Terancam Gagal Panen

Selasa, 4 Agustus 2015

INDRAMAYU, KOMPAS — Lebih dari 20.000 hektar tanaman padi di daerah lumbung padi Jawa Barat, yakni Kabupaten Indramayu dan Cirebon, terancam gagal panen pada musim gadu tahun ini. Musim kemarau yang panjang mengakibatkan debit air Sungai Cimanuk yang melintasi Bendung Rentang di Kabupaten Majalengka susut drastis. Padahal, air dari bendung tersebut menyuplai air untuk 90.000 hektar sawah di Majalengka, Cirebon, dan Indramayu bagian timur dan tengah.

Di Kabupaten Lebak, Banten, luas tanaman padi yang gagal panen (puso) 2.045 hektar. Luas tanaman padi yang terancam kekeringan di kabupaten itu mencapai 32.247 hektar.

Gagal panen juga dialami petani di dua kecamatan di kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Lahan puso di dua kecamatan itu sekitar 200 hektar.

Pengamatan di Indramayu dan Cirebon, sejak akhir pekan lalu hingga Senin (3/8), menunjukkan, kekeringan telah meluas, bahkan ke daerah-daerah yang selama ini air irigasinya terjamin dari Waduk Jatiluhur. Indramayu merupakan wilayah barat paling parah terdampak kekeringan. Di tiga wilayah utama penghasil beras di kawasan itu, yakni Kecamatan Losarang, Gabus Wetan, dan Kandanghaur, tanaman padi yang belum genap berusia tiga bulan telah mati.

Beberapa saluran irigasi, salah satunya Saluran Sekunder Plasa di Kecamatan Gabus Wetan, telah mengering sejak dua bulan lalu. Tanaman padi di daerah itu banyak yang menguning bukan karena siap panen, melainkan tidak mendapat air. Lahan sawah pun retak-retak.

"Kalau sampai dua minggu lagi tak ada air, maka lebih dari 20.000 hektar sawah di Indramayu dan Cirebon gagal panen. Saat ini menunggu waktu saja, sebab debit air Cimanuk sudah merosot jauh," kata Karno, Ketua Dewan Air Indramayu, Senin.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung mencatat, debit air Sungai Cimanuk terus turun. Kisaran debit itu 10-15 meter kubik per detik setiap hari. Pada kondisi normal, debitnya 72-76 meter kubik per detik.

Dampak kekeringan itu sudah dirasakan pahitnya oleh Dasikin (62), warga Desa Rancangan, Kecamatan Gabus Wetan. "Sawah saya usia dua bulan langsung mati karena tidak ada air. Biasanya, kami mendapatkan air dari saluran irigasi Plasa. Sejak sebelum puasa, air irigasi mengering. Akibat kekeringan itu, Dasikin merugi Rp 4 juta untuk modal penanaman dan pembibitan.

Pompa dilarang

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi BBWS, Kasno, menuturkan, pompa dilarang dipakai. Tata gilir air harus dipatuhi oleh petani. Pengamanan sumber air itu menjadi kewenangan setiap daerah. "Jika semua orang menyedot air, tata gilir air irigasi tidak berjalan. Petani saling berebutan," katanya.

Di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lebak Kaprawi mengatakan, dibutuhkan antisipasi secara cepat untuk menanggulangi kekeringan, seperti penggunaan pompa.

Berdasarkan pengamatan, tanaman padi kekeringan antara lain terlihat di Desa Mekar Agung di Kecamatan Cibadak serta Desa Baros dan Pasirtangkil di Kecamatan Warunggunung.

Kekeringan di Sulawasi Selatan terjadi di wilayah barat. Sementara di wilayah timur hampir tidak terlalu bermasalah karena sawah umumnya masih mendapatkan air irigasi. Sekretaris Kelompok Tani dan Nelayan Andalan Sulsel mengatakan, beberapa kabupaten, seperti Bantaeng, Sinjai, dan Bone, telah melaporkan tanaman padi yang kekeringan dan puso.

Sementara itu, di Klaten, Jawa Tengah, sejumlah petani mengaku tidak khawatir dan tetap bersiap menanam palawija. Untuk memenuhi pasokan air, petani menggunakan sumur bor.

Dari Kabupaten Tegal muncul imbauan dari anggota Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani setempat, Toto Subandriyo, agar pemerintah terus menyosialisasikan sistem tanam padi yang hemat air.

Di Jawa Timur, meskipun kekeringan sudah dua bulan melanda, target produksi padi provinsi ini stabil. Hingga saat ini, Bulog Jatim telah mampu menyerap sekitar 500.000 ton setara beras, dari target 1,1 juta ton.

Di Jakarta, Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu mengatakan, hingga 3 Agustus 2015, total pengadaan beras Bulog sebesar 1,7 juta ton setara beras.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan A Djalil di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, menyebutkan, pemerintah masih mengkaji dampak El Nino terhadap produksi dan ketersediaan pangan di Tanah Air. Hasil kajian diharapkan rampung pada pekan ini sehingga dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan apakah pemerintah perlu mengambil kebijakan membuka keran impor atau tidak.

Kementerian Pertanian diberi tugas menghitung dampak El Nino terhadap lahan yang kekeringan, dan seberapa besar dampaknya terhadap produksi pangan. Adapun Kementerian Perdagangan diberi tugas menghitung ketersediaan pangan.

Sebelumnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan tak mengimpor bahan pangan, terutama beras. Impor jadi opsi terakhir saat stok pangan menipis dan kebutuhan dalam negeri tak bisa terpenuhi dari produksi sendiri.

(REK/WIE/RWN/ETA/

REN/BAY/ODY/MAS/WHY)

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150804kompas/#/21/

Senin, 03 Agustus 2015

PASOKAN BERAS DI LEBAK MELIMPAH

WE Online, Lebak - Pasokan beras lokal di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten melimpah dan tidak terdampak kemarau panjang yang menyebabkan terjadi gagal panen.

Berdasarkan pantauan di Pasar Tradisional Rangkasbitung, Minggu (2/8/2015), pasokan beras lokal dari berbagai daerah di wilayah Kabupaten Lebak dan Pandeglang melimpah. Mereka para pedagang mendatangkan beras lokal karena permintaan pasar cukup tinggi juga kualitasnya relatif bagus.

Umumnya, beras lokal itu hasil panen Maret-Mei 2015, bahkan beberapa daerah di Kabupaten Lebak hingga kini masih berlangsung panen.

"Kami hari ini mendatangkan beras lokal dari Malingping sebanyak dua ton," kata H Baden, seorang pedagang di kiosnya di Pasar Tradisional Rangkasbitung.

Ia mengatakan, saat ini pasokan beras lokal tidak ada masalah dan tidak berdampak kekeringan akibat kemarau panjang. Sebab petani hingga kini masih berlangsung panen, sehingga dipastikan persedian beras mencukupi selama tujuh bulan mendatang. Saat ini, beras lokal memiliki kualitas cukup bagus dibandingkan dari sejumlah daerah di Jawa Barat maupun Jawa Tengah.

"Kami yakin kekeringan yang terjadi belakangan ini tidak mempengaruhi persedian beras lokal," katanya menjelaskan.

Menurut dia, keunggulan beras lokal itu, selain harga murah antara Rp7.000 sampai Rp8.000/kg juga beraroma dan kadar gulanya cukup tinggi. Masyarakat kebanyakan memilih beras lokal dibandingkan beras dari luar daerah. Untuk itu, pihaknya kini menampung beras lokal dari berbagai sentra lumbung pangan di Kabupaten Lebak, Pandeglang dan Serang.

Pasokan beras lokal itu adalah jenis medium yang memiliki kualitas cukup bagus. Saat ini, harga beras lokal medium KW 1 semula Rp8.000/Kg dan beras KW II Rp7.500/Kg dan beras KW III Rp7.000/Kg.

"Kami menjamin harga beras lokal itu relatif stabil karena pasokan melimpah," katanya lagi.

Suryadi, seorang pedagang di pasar tradisional Kecamatan Cipanas Kabupaten Lebak membenarkan dia kini mendapatkan beras dari petani lokal. Saat ini, pasokan beras lokal mencukupi untuk kebutuhan tujuh bulan mendatang dan tidak mempengaruhi musim kemarau.

"Kami ini saat ini menerima beras lokal sebanyak delapan ton," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dede Supriatna menyebutkan selama ini pasokan beras lokal relatif aman dan tidak menimbulkan kekewatiran memasuki musim kemarau itu. Pemerintah daerah kini bergerak cepat melakukan pompanisasi untuk menyelamatkan tanaman padi yang mengalami kekeringan.

Ia mengajak petani agar siap melakukan percepatan tanam November mendatang seluas 21.000 hektare. "Saya kira gerakan tanam serentak guna mendukung swasembada beras," katanya.

Berdasarkan laporan sejumlah kelompok tani bahwa produktivitas rata-rata 6-7 ton gabah kering pungut per hektare. Sedangkan,kata dia lagi, produksi gabah tahun sebelumnya hanya 5,6 ton/hektare.

"Kami memperkirakan panen tahun ini surplus, dan untuk enam bulan ke depan dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Lebak," katanya. (Ant)

Editor: Cahyo Prayogo

http://wartaekonomi.co.id/berita66781/pasokan-beras-di-lebak-melimpah.html

Meredam Dampak El Nino

Senin, 3 Agustus 2015

El Nino tahun ini diprediksi akan berdampak sama dengan El Nino tahun 1997. Belajar dari bencana ekstrem 18 tahun lalu itu, upaya antisipasi terpadu dilakukan untuk meredam kebakaran hutan serta krisis air dan pangan.

El Nino tahun 1997 menimbulkan dampak kekeringan terhebat dalam sejarah bencana meteorologi Indonesia. Musim kemarau kering berkepanjangan karena anomali cuaca itu memicu kebakaran hutan dan lahan (kahutla) meluas, terutama di Sumatera dan Kalimantan.

Kerugian akibat El Nino 1997 terbesar disebabkan kahutla mencapai Rp 47 triliun atau 2,75 miliar dollar AS. Kebakaran itu melanda 11,6 juta hektar hutan. Lalu, kabut asap lintas batas yang ditimbulkan melanda 20 juta orang di empat negara, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei. Adapun kerugiannya 760 juta dollar AS.

Dampak buruk kekeringan serta protes dari Singapura dan Malaysia jadi pembelajaran bagi Pemerintah Indonesia menghadapi El Nino 2015. Apalagi, menurut prediksi iklim dan cuaca, El Nino 2015 sampai 2016 akan sama, bahkan lebih kuat, dibandingkan 1997. Hal itu mengacu pada hasil pantauan suhu muka laut, pola angin, dan gerakan awan di Samudra Pasifik.

Untuk itu, pemerintah mengerahkan semua potensi di tiap kementerian dan lembaga riset, baik dana maupun teknologi. Demi mengatasi meluasnya kebakaran hutan yang mulai terjadi di sejumlah daerah disiapkan dana penanganan bencana itu pada anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana Rp 385 miliar sampai September 2015. Badan itu juga menyediakan dana siap pakai sebagai tambahan.

Pemadaman api

Sejumlah inovasi teknologi pun didayagunakan. Salah satunya, pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca yang lebih dikenal sebagai hujan buatan. Operasi hujan buatan dilakukan Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan bantuan pesawat TNI Angkatan Udara dan swasta.

Pada operasi hujan buatan, bubuk garam (NaCl) di atas awan disebar untuk mempercepat kondensasi. Sayangnya, teknologi itu bergantung pada ketersediaan awan sehingga kurang efektif saat puncak kemarau. Karena itu, tim operasi hujan buatan di Riau dan Sumatera Selatan memperbanyak penaburan garam di udara sebelum puncak kemarau, Agustus dan September, yang akan mengurangi potensi awan layak semai.

Teknologi lain, Peat FireX untuk pemadaman api di lahan gambut. "Teknologi asal AS itu terbuat dari bahan alami, nontoksik, bisa cepat terurai dan terserap gambut," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Raffles Panjaitan, Jumat (31/7) di Jakarta.

Produk berupa bubuk itu dicampur air, lalu dimasukkan tabung yang digendong di punggung. Cairan di tabung itu disemprotkan personel Manggala Agni-brigade pengendalian karhutla KLHK di lahan terbakar. Namun, pemanfaatan bahan itu sejak dua tahun terakhir terkendala keterbatasan Manggala Agni menjangkau semua lokasi kebakaran bermedan sulit.

Teknologi pemadaman kebakaran lahan yang juga bisa dipakai adalah bom berbahan kimia khusus. Bom berbobot 500 kilogram itu dikenalkan Rusia. Seperti diberitakan media Rusia, Sputniknews, bom terbukti memadamkan api di lahan terbakar. Satu bom untuk lahan 1.000 meter persegi. Cairan pada bom menyedot oksigen yang jadi pemicu kebakaran.

content

Pakar gambut dari BPPT, Bambang Setiadi, bersama tim periset dari Jepang dipimpin Prof Mitsuru Osaki, pakar fisiologi tanaman dan ilmu tanah Universitas Hokkaido, meneliti kebakaran gambut untuk meredam dan mengantisipasi dampak El Nino. Kerja sama itu berjalan 10 tahun terakhir.

Osaki, Ketua Project "Wild Fire and Carbon Management in Peat-Forest in Indonesia", memaparkan, ancaman kebakaran gambut Juli dan akan meningkat pada bulan berikut. "Deviasi SST 2015 diprediksi menimbulkan situasi seperti El Nino 1997. Kini Jepang memantau kondisi kekeringan amat intensif," kata Bambang.

Tim BPPT dan Universitas Hokkaido di Pusat Perubahan Iklim Indonesia mengusulkan penanganan dampak El Nino. Caranya, membasahi gambut di area kanal dan kubah gambut dengan mengisi air saluran kanal di area belum terbakar atau sebelum kekeringan.

Pertanian

Sektor pertanian juga terdampak El Nino karena kurang air sehingga mengancam keamanan pangan. Kerugian akibat gagal panen dan kekeringan lahan melanda 3,9 juta hektar pada 1997/1998 ditaksir Rp 6 triliun atau 17 persen nilai total kerugian akibat karhutla.

Pada El Nino 2015 kategori kuat, kegagalan panen bisa melanda 227.414 hektar di musim tanam. Wilayah terdampak adalah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Karena itu, Kementerian Pertanian akan mengalihkan Rp 2 triliun dana APBN untuk pembuatan embung, penyediaan 20.000 pompa air, dan penyediaan sumur dangkal. Keterbatasan sumber air di darat diatasi dengan teknologi desalinasi air laut, pengolahan air laut mengandung garam dan mineral lain menjadi air tawar. Teknologi itu sudah dikuasai BPPT.

Untuk menjaga keamanan pangan, menurut peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Balitbang Pertanian Kementerian Pertanian, Muhammad Noor, lahan rawa dikembangkan. Lahan rawa yang sesuai bagi pertanian 13,7 juta hektar.

Panen padi di lahan rawa Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Agustus atau September, diperkirakan 7 ton per ha, memakai varietas padi hibrida dan inpara yang dikembangkan Kementan. Saatnya pemerintah memajukan pertanian rawa agar petani bisa tiga kali tanam setahun.

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150803kompas/#/14/

Stok Beras di Tengah Kekeringan

Senin, 3 Agustus 2015

PEMERINTAH wajib mengamankan stok cadangan beras nasional untuk mengantisipasi berbagai kemungkinanan terburuk, seperti perang, bencana hingga konflik sosial. Antisipasi selalu diperlukan agar negara tidak terperangkap situasi rawan pangan, apalagi bencana kelaparan.

Ekses fenomena El Nino sudah dirasakan oleh semua orang di berbagai daerah. Terjadi kekeringan atau kemarau panjang, gagal panen, kebakaran hutan, kelangkaan air bersih, hingga ragam gangguan kesehatan. Selain bencana kekeringan, warga di sejumlah daerah juga terganggu oleh letusan lima gunung berapi. Gunung Raung di Pulau Jawa, Gunung Gamalama dan Dukono di kepulauan Maluku, Gunung Sinabung di Sumatera, dan Gunung Karangetang di Pulau Siau.

Hingga Agustus ini, luas areal persawahan yang dilanda kekeringan diperkirakan 110 ribu hektar. Dan, luas areal persawahan berstatus puso diperkirakan delapan ribu hektar. Juga dilaporkan bahwa hingga akhir Juli 2015 lalu,lima waduk dari 16 waduk utama di dalam negeri sudah defisit air.

Kalau gambarannya seperti itu, bukan mengada-ada jika banyak orang mulai khawatir tentang kemungkinan terjadinya kelangkaan bahan pangan di dalam negeri. Apalagi, di pasar kebutuhan pokok, harga juga cenderung tinggi. Kali ini, alasan yang dikemukakan adalah minimnya pasokan akibat kekeringan di daerah produksi.

Maka, sangat beralasan jika dimunculkan pertanyaan tentang bagaimana pemerintah mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk itu, mengingat rentang waktu kekeringan bisa sampai Oktober 2015. Sejauh ini, yang tampak dipermukaan adalah upaya pemerintah mereduksi dampak kekeringan. Misalnya, menyediakan pompa untuk galian dangkal serta pembangunan embung. Dewasa ini terus dibangun 1,3 juta saluran air. Upaya itu layak diapresiasi.

Mereduksi dampak kekeringan pada areal persawahan memang menjadi keharusan. Tetapi, kekhawatiran utama saat ini adalah stok beras di dalam negeri. Mengingat kekeringan sudah berlangsung relatif lama sehingga menyebabkan gagal panen di beberapa tempat, masih amankah stok beras untuk menutup kebutuhan beberapa bulan ke depan? Pertanyaan inilah yang patut dijawab pemerintah.

Jawaban itu amat diperlukan untuk menetralisasi grafik harga beras di pasar. Sebab, kekeringan ekstrem saat ini bisa memicu spekulasi. Maka, keterbukaan pemerintah dan Perum Bulog tentang stok beras yang akurat diharapkan bisa meredam spekulasi.

Belum lama ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan produksi beras saat ini mencapai 1,39 juta ton, sehingga dia menjamin bahwa stok beras untuk enam bulan ke depan atau hingga akhir 2015, aman. Bulog pun mematok target posisi stok beras per Oktober 2015 bisa mencapai jumlah 2,5 juta ton. Karena itu, sudah dibuat kepastian bahwa pemerintah tidak akan impor beras sepanjang sisa tahun ini.

Mudah-mudahan, kepercayaan diri Pemerintah dan Bulog tidak berlebihan. Masalahnya adalah tingkat kepercayaan diri setinggi itu belum bisa menghilang kecemasan berbagai pihak terhadap kemungkinan terjadinya kelangkaan bahan pangan, utamanya beras, sebagai akibat kekeringan yang sangat ekstrem saat ini.

Kalau angka tentang stok beras yang disajikan Menteri Pertanian itu benar dan akurat, masyarakat tak perlu cemas karena hingga akhir 2015, keseimbangan permintaan dan penawaran beras di dalam negeri akan terjaga. Masyarakat mungkin mendesak agar Bulog bisa menekan harga beras dengan stok beras yang besar itu.

Stok beras yang aman hingga akhir tahun 2015 itu diharapkan bisa berlanjut hingga awal 2016. Sebab, setelah kekeringan ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2015, situasi ekstrem lainnya sudah menghadang, yakni curah hujan tinggi pada bulan-bulan awal tahun 2016. Seperti tahun-tahun terdahulu, pasokan kebutuhan pokok dan harga sering menjadi masalah karena alasan gangguan cuaca.***

http://www.suarakarya.id/2015/08/03/stok-beras-di-tengah-kekeringan.html

Sabtu, 01 Agustus 2015

Kekeringan, Mandi Satu Kali Sehari Hanya dengan Empat Gayung Air

Sabtu, 1 Agustus 2015

MAGELANG, KOMPAS.com - Kekeringan yang melanda sebagian wilayah pegunungan Menoreh, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, membuat warga setempat harus berjuang untuk mendapatkan air bersih.

Tidak jarang mereka harus berjalan belasan kilometer menuju sumber mata air di sekitar dusun, lalu mengantre berjam-jam untuk sekadar mendapatkan 1-2 jerigen air. Demi menghemat air, warga terpaksa mandi hanya dengan empat gayung air.

"Kalau mandi cukup sehari sekali, itu pun hanya empat gayung, membersihkan badan sekedarnya saja. Karena memang tidak cukup," kata Mantep, seorang warga Dusun Wonolelo, Desa Kenalan, Kecamatan Borobudur, di sela-sela mengantre air di sebuah mata air dekat dusun itu, Sabtu (1/8/2015).

Warga rela menunggu hampir satu jam untuk mengisi air bersih ke dalam sebuah jerigen ukuran sedang sampai penuh. Debit air yang mengalir dari pipa yang terhubung dengan sumber mata air itu sangat kecil.

"Setiap malam kita sudah mengantri jerigen di sini (sumber mata air), masing-masing kepala keluarga hanya boleh ngantri maksimal tiga jerigen. Untuk satu jerigen saja lama penuhnya, karena air mengalir sangat kecil," kata Sainem (76), warga setempat yang juga turut antre.

Sumur mengering

Menurut Sainem, musim kemarau panjang mengakibatkan sumur-sumur warga mengering. Kondisi tersebut dirasakan warga sejak dua bulan terakhir. Warga pun harus ekstra hemat dalam penggunaan air, terlebih air bersih yang digunakan untuk konsumsi.

"Kami harus hati-hati waktu mengisi, jangan sampai tumpah, setetes air bersih bagi kami sangat berharga," timpal Mantep.

Menurut dia, air bersih yang berhasil dikumpulkan di jerigen akan ditampung di bak-bak yang telah disiapkan di rumah masing-masing. Air itu biasa digunakan untuk keperluan konsumsi dan mandi saja. Sedangkan untuk mencuci pakaian, warga biasa memanfaatkan air di pemandian umum yang kondisinya sudah keruh.

Ketua RW 004 Dusun Wonolelo, Edi Wahyono, mengungkapkan, setidaknya ada lima sumber mata air yang ada di sekitar Dusun tertinggi di pegunungan Menoreh ini. Namun setiap musim kemaru tiba, sumber mata air terus menyusut dan menyisakan hanya satu sumber mata air.

Menurut Edi, puncak kekeringan biasanya terjadi pada bulan Oktober - November setiap tahun.

"Kita sudah mengajukan pemohonan bantuan air bersih kepada Pemerintah Kabupaten Magelang. Sudah direalisasikan sebulan lalu. Droping  (pengiriman) air setiap seminggu sekali. Bantuan ini cukup membantu kami," ucap Edi.

Ia menyebutkan, Dusun Wonolelo dihuni sekitar 245 jiwa dari 84 Kepala keluarga (KK). Sebagian besar warga bermata pencaharian sebagai petani lahan kering yang ditanami tanaman singkong dan tembakau.

http://regional.kompas.com/read/2015/08/01/19203341/Kekeringan.Mandi.Satu.Kali.Sehari.Hanya.dengan.Empat.Gayung.Air

Kekeringan di Karanganyar, Air Waduk Delingan Dinyatakan Habis

Jumat, 31 Juli 2015

KARANGANYAR — Air Waduk Delingan Karanganyar, Jawa Tengah, dinyatakan habis. Saat ini waduk tersebut hanya cukup untuk mengairi persawahan di Kelurahan Gedong, Karanganyar dan Desa Kalijirak, Tasikmadu.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, waduk sudah kering. Hanya ada sedikit aliran air menuju saluran keluar waduk. Tanah di sekitar aliran air tersebut kering kerontang hingga retak. Menurut petugas operasional Waduk Delingan, Suharno, sejak 14 Juli 2015 air di Waduk Delingan sudah dinyatakan habis.

“Hanya ada 30-40 liter per detik air yang masuk ke waduk,” kata dia saat ditemui wartawan di Waduk Delingan.

Air yang masuk tersebut akan dibendung selama tiga hari sebelum dikeluarkan ke saluran irigasi menuju Gedong dan Kalijirak. “Air yang masuk sangat sedikit. Kalau tidak dibendung dulu, dikhawatirkan air tidak akan sampai ke tujuan,” kata dia.

Suharno mengatakan saat ini air waduk hanya cukup untuk mengairi dua wilayah yaitu area persawahan di Gedong dan Bendungan Soko, Kalijirak. Biasanya air Waduk Delingan dapat mengairi sawah lebih dari 15 wilayah dengan total lahan seluas 1.830 hektare.

“Biasanya untuk musim tanam pertama dan kedua sukses. Tapi, setelah itu pasokan air memang berkurang,” kata dia.

Pemeliharaan waduk juga mulai dilakukan. Suharno mengatakan tahun ini ada pembangunan drainase sepanjang 66 meter di sekitar talut waduk. Para pekerja pembangunan drainase tersebut mulai bekerja Kamis (30/7/2015) kemarin.

“Tahun ini juga dilakukan pengerasan jalan inspeksi, peninggian talut serta perbaikan kabel motor penggerak pintu air,” kata Suharno.

Dia mengatakan kabel motor penggerak hilang sehingga akan dipasangi lagi. Diharapkan dengan pemasangan kabel motor tersebut pintu pembuangan air waduk bisa berfungsi maksimal.

Ketua Jaga Tirta Gedong, Tarman, mengatakan saat ini pasokan air di Gedong memang berkurang. Penyebabnya, aliran dari Waduk Delingan hanya empat hari sekali dibuka. “Jelas kurang dan mengganggu. Kami upayakan untuk menambah pasokan air dengan sistem pompa,” kata dia saat dihubungi Solopos.com.

Dia menuturkan para petani akan mengambil air dari sumur dengan mesin pompa.

(mbs)

Presiden Jokowi Instruksikan Jajaran Terkait Segera Atasi Bahaya Kekeringan

Jumat, 31 Juli 2015

Presiden Joko Widodo mengingatkan kepada jajaran pemerintahan, bahwa musim kemarau di Indonesia yang merupakan dampak dari El Nino, telah mencapai level yang perlu betul-betul diperhatikan.


JAKARTA—
Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara khusus meminta Menteri Pertanian terus memantau dan melakukan langkah cepat mengatasi masalah kekeringan.

Presiden usai menghadiri musyawarah nasional ke-7 Himpunan Kerukunan Tani Indonesia di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Jumat (31/7) menjelaskan, langkah pemerintah mengatasi kekeringan diantaranya adalah pembagian pompa air di seuruh wilayah yang lahan pertanian dan perkebunannya dilanda kekeringan.

Presiden menegaskan, bahwa langkah ini sudah mulai dibangun di daerah-daerah, dan akan optimal tahun depan, dimana ribuan waduk akan selesai dibangun.

"Menteri Pertanian muter terus ke seluruh wilayah untuk bagi pompa. Terutama di tempat-tempat yang daerahnya betul-betul kering dan memerlukan air. Di NTT, berpuluh-puluh tahun kalau kuncinya tidak kita siapkan.. Kuncinya apa? ya air. Air itu gimana? Yang dibuatkan waduk, dibuatkan embung. Buatkan irigasi. Kalua ga gitu ya mau nanam apa? Kuncinya disitu. Kenaikan produksi itu ada kalau kita memperbanyak waduk dan embung," jelas Presiden Jokowi.

Presiden menambahkan, selain pembagian pompa air, Pemerintah juga terus mempercepat pembangunan waduk dan embung (penadah air hujan) di seluruh daerah yang rawan kerap dilanda kekeringan.

Presiden Jokowi Minta Jajaran Pemerintah Segera Atasi Bahaya Kekeringan

"Waduk, embung, sudah banyak sekali, ada ribuan embung yang mau kita bangun. Embung hanya 1 hektar atau 2 hektar. Kecil-kecil tapi banyak sekali di semua tempat. Karena kuncinya memang kekeringan seperti ini ada tampungan air," lanjut Presiden.

Presiden Jokowi dalam rapat kabinet khusus, Jumat (31/7) yang membahas soal kekeringan mengatakan dalam mengatasi masalah kekeringan ini harus pula diperhatikan nasib para petani dan nelayan dan juga kebakaran hutan bisa di cegah bersama.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan kepada jajaran pemerintahan, bahwa musim kemarau di Indonesia yang merupakan dampak dari El Nino, telah mencapai level yang perlu betul-betul diperhatikan. Keadaan ini menurut Presiden diprediksi kemungkinan akan menguat mulai Agustus sampai Desember. Presiden juga meminta dilakukannya kewaspadaan terhadap beberapa titik hotspot yang berpotensi menjadi pemicu kebakaran hutan.

Sementara itu Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan, Pemerintah tealah menyiapkan anggaran khusus untuk mengatasi masalah kekeringan.

"Solusinya adalah, solusi permanen ya (pembangunan) sumur dangkal, sumur dalam, embung.. Ini solusi kedepan. Kami persiapkan anggaran untuk menghadapi kekeringan ini Rp 800 Milyar. Untuk tahun depan (disiapkan (muda-mudahan) tidak sampai Rp 2 Trilyun," jelas Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

Akibat bencana kekeringan atas musim kemarau yang berkepanjangan, tanaman padi di sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengering dan terancam gagal panen. Kekeringan tersebut disebabkan semakin berkurangnya air irigasi untuk pertanian.