Senin, 10 Agustus 2015

Bila Hidup dan Mati Tergantung Musim

Minggu.9 Agustus 2015


Beberapa hari terakhir ini kita membaca berita mengenai lahan pertanian di berbagai tempat yang mengalami kekeringan dan petani terancam gagal panen. Di daerah tertentu ada warga yang merusak bendungan agar mendapatkan air.

Chambers (1995) menulis Poverty and Livelihoods: Whose Reality Counts?, mengingatkan kita betapa kemiskinan sulit dipahami oleh yang tidak sungguh mengalami. Para profesional yang menekuni isu kemiskinan, dan pada umumnya kita, berpikir tentang kemiskinan dari perspektif masyarakat kelas menengah yang sesungguhnya tidak pernah mengalami, tetapi punya otoritas untuk membuat definisi.

Definisi

Yang terjadi saat ini, saking langkanya air, di beberapa tempat warga menaruh jeriken kosong di sore hari agar dapat menampung tetes-tetes air dari lubang batang pisang dan mengambil air yang mungkin tak terisi penuh di jeriken esok harinya. Airnya digunakan untuk minum dan memasak. Di satu lokal pemerintah meminjamkan pompa bagi warga agar dapat menyedot air, di tempat lain warga dilarang menggunakan pompa demi memastikan pemerataan pemanfaatan air. Sementara apabila gagal panen, petani betul-betul kehilangan semuanya: modal pertanian yang mungkin didapat dari berutang, waktu dan kerja keras yang terbuang sia-sia, kesempatan mencukupi kebutuhan makan keluarga, sekolah anak, dan masa depan.

Saya jadi ingat satu pertemuan, mungkin dua tahun lalu, ketika seorang pendamping lapangan menjelaskan kemiskinan buruh perkebunan di luar Jawa, yang setiap hari terpaksa harus mengajak istrinya untuk membantunya penuh waktu menyiangi kebun, demi mendapatkan upah utuh yang jika dijumlahkan tidak sampai Rp 1.500.000 per bulan. Apabila tidak memenuhi target, upahnya dipotong, dan ia tidak mampu mempekerjakan orang lain. Meminta bantuan orang lain berarti harus membayarnya lebih dari separuh upah hariannya, hanya istrinyalah yang mau tidak mau harus membantu.

Dalam pertemuan itu, seorang mahasiswa memotong, meminta pendamping lapangan agar tidak terlalu berlebihan melihat hal tersebut sebagai persoalan sosial yang harus dibereskan karena dengan upah Rp 1.500.000 (saat itu) sang buruh sudah tidak masuk dalam golongan kelompok miskin. Terjadilah perdebatan, sang pendamping kemudian menjelaskan bahwa uang Rp 1.500.000 sesungguhnya dihasilkan dari kerja penuh waktu dua orang, bukan satu orang, dan upah itu harus dipotong dulu untuk transpor mereka menuju perkebunan. Mereka memiliki tiga anak usia sekolah yang harus dihidupi dan harus didampingi. Pertanyaan yang menohok bagi si mahasiswa: ”Apakah setelah mengetahui ini Anda masih tidak menganggap mereka dalam kemiskinan? Bagaimana jika Anda sendiri ada di posisi mereka, masih samakah definisi kemiskinan yang Anda pegang?”

Dinamika kemiskinan

Mengapa orang menjadi miskin? Krishna (2010) melakukan penelitian meluas di beberapa negara dengan memfokus pada pengalaman dan perspektif kelompok miskin itu sendiri. Ia menemukan bahwa penyebab utama orang menjadi miskin atau lebih miskin adalah (dari urutan tertinggi) apabila mengalami sakit/kondisi kesehatan buruk dan harus mengeluarkan biaya-biaya perawatan kesehatan, hal-hal terkait upacara perkawinan, penyiapan mas kawin, biaya memulai rumah tangga, biaya upacara-upacara kematian, terjerat utang berbunga tinggi, kekeringan, kegagalan panen, penyakit tanaman, dan perusakan tanah (sudah tidak subur, tidak dapat lagi digunakan bertani).

Sementara itu, penyebab-penyebab utama orang dapat keluar dari kemiskinan adalah (dari yang tertinggi): diversifikasi pekerjaan dan penghasilan, akhirnya memperoleh pekerjaan (dari sebelumnya menganggur), dan ada asistensi dari pemerintah atau kelompok swadaya masyarakat. Menarik bahwa ternyata asistensi dari pemerintah dan kelompok masyarakat hanya mengisi 3 persen sampai dengan 8 persen dari semua jawaban, jika dibandingkan dengan upaya diversifikasi penghasilan yang dilakukan sendiri oleh individu/kelompok, yang dapat mengisi hingga 49 persen sampai dengan 69 persen jawaban.

Data di atas menjelaskan bahwa program-program penghapusan kemiskinan yang selama ini dilakukan dan mungkin telah menghabiskan dana besar ternyata belum berjalan efektif. Pemahaman mengenai dinamika kemiskinan sangat diperlukan untuk mengembangkan kebijakan dan program-program khusus untuk menghindarkan orang masuk dalam kemiskinan, dan membantu orang keluar dari kemiskinan.

Kemiskinan struktural

Reaksi pertama kita saat membaca berita tentang warga merusak bendungan mungkin: ”Itu kan perusakan sarana umum, berbahaya bagi masyarakat dan melanggar hukum?”

Chambers (1995) menjelaskan bahwa orang-orang kecil yang menggantungkan diri pada alam dan musim berada dalam situasi sangat rentan tanpa jaminan apa pun. Rentan terpapar pada shock, stres, risiko, dan kehilangan. Rentan secara internal psikologis juga karena ketidaksiapan atau ketidakmampuan untuk bertindak menghadapi peristiwa yang terjadi. Banjir, kekeringan, kegagalan panen dapat berarti makin terjerat utang, tidak bisa makan, sakit, makin miskin, tidak bisa bekerja lagi, jatuh dalam golongan ”termiskin”, dan kehilangan harga diri. Kondisi alam yang rusak, cuaca ekstrem, atau kekeringan parah dapat menghancurkan segala-galanya.

Perusakan lingkungan lebih banyak kelompok kelas menengah, pemilik modal, dan penguasa yang menjadi pelakunya. Hukum pertama ekologi menyatakan everything is connected nto everything else sehingga mungkin kita perlu mengubah reaksi kitadengan mengajukan pertanyaan:”Apa yang dapat dilakukan agar petani dan warga yang menggantungkan diri pada alam dan musim memilikialternatif-alternatif bertindak yanglebih baik, terhindarkan dari frustrasi dan dapat terjaga kelangsunganhidupnya?”

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150809kompas/#/11/

Pemerintah Jamin Stok Beras Aman

Minggu, 9 Agustus 2015

Tingkatkan Koordinasi Antarlembaga

SUKOHARJO, KOMPAS — Pemerintah menjamin stok beras dalam kondisi aman meski ada fenomena El Nino yang menyebabkan iklim kekeringan. Meski demikian, sejumlah pihak menilai, koordinasi antarlembaga yang mengurusi pangan perlu lebih ditingkatkan.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan, ada proyeksi bahwa kekeringan akibat El Nino makin menguat hingga produksi pertanian akan turun.

Namun, pemerintah terus berupaya mengatasi kekeringan tersebut dengan memberikan akses air yang lebih baik bagi masyarakat. Upaya yang telah dilakukan, antara lain, membuat embung dan membagikan lebih banyak pompa air.

Pemerintah juga terus memperkuat cadangan beras Bulog melalui penyerapan produksi dari petani. Sementara kebijakan impor beras belum diambil.

”Sementara ini (stok beras) masih cukup. Kita terus-menerus memantaunya sehingga apa pun yang terjadi akan kami atasi. Kami jamin negeri ini tidak kekurangan beras, bagaimanapun caranya,” kata Kalla, Sabtu (8/8), di sela-sela kunjungannya ke Sukoharjo, Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, yang mendampingi Wapres, justru optimistis produksi beras di Jawa Tengah pada tahun ini akan meningkat ketimbang tahun sebelumnya.

Hal itu terjadi karena meski ada El Nino, daerah pertanian di sekitar Bengawan Solo, Jawa Tengah, tidak kekurangan air dan pada tahun ini mulai memasuki musim tanam ketiga. Sementara di sejumlah daerah yang mengalami kekeringan telah dibuat embung dan pembagian mesin pompa air.

Belum signifikan

Dalam rapat kabinet yang dipimpin Presiden Joko Widodo, Kamis lalu, pemerintah menilai, El Nino belum berdampak signifikan terhadap penurunan produksi pangan dalam negeri.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, tanpa ada El Nino, lahan pertanian di Indonesia yang endemik kekeringan mencapai 200.000 hektar per tahun. Menyikapi hal itu, Kementerian Pertanian sudah melakukan sejumlah langkah sejak Januari 2015. Hingga saat ini, pemerintah telah membangun irigasi tersier yang mampu mengairi 1,3 juta hektar lahan dan membagikan 21.000 pompa air ke petani. Embung dan sumur dangkal juga telah dibangun di sejumlah tempat.

Dengan sejumlah langkah antisipatif tersebut, separuh dari 200.000 hektar lahan pertanian bisa diselamatkan dari ancaman gagal panen.

Sementara itu, sejumlah daerah yang masih teridentifikasi mengalami kekeringan adalah Kabupaten Indramayu dan Cirebon (Jawa Barat); Demak, Pati, dan Grobogan (Jawa Tengah); Bojonegoro (Jawa Timur); serta Timor Tengah Selatan (Nusa Tenggara Timur).

”Sekarang ini belum terlihat dampaknya pada produksi pertanian karena hingga Agustus ini masih panen. Yang perlu kita antisipasi adalah (musim tanam) September-Oktober nanti,” kata Andi.

Terkait kekhawatiran daya dukung pengairan sejumlah waduk yang menurun akibat kekeringan, Andi menyatakan, sejauh ini belum ada persoalan dengan 18 waduk besar yang menyuplai 70 persen lahan irigasi.

Dengan kondisi itu, Andi berharap produksi padi di Tanah Air pada tahun ini mencapai angka ramalan dari Badan Pusat Statistik sebesar 75,5 juta ton.

Sementara itu, stok beras dalam negeri saat ini sekitar 1,5 juta ton. Diharapkan, serapan beras Bulog hingga akhir Oktober bisa mencapai 2,5 juta ton. Jika target serapan itu tidak tercapai, pemerintah akan mengevaluasi apakah masih memerlukan impor atau tidak. ”Jadi, impor itu pilihan terakhir,” kata Andi.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Andi Eka Sakya menyatakan, El Nino masih berpotensi menguat hingga mencapai puncak pada Agustus-September. El Nino berpotensi mengakibatkan kekeringan di sejumlah daerah, seperti Sumatera Selatan bagian timur, wilayah Jawa, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil wilayah Kalimantan Selatan bagian timur, Sulawesi bagian selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, serta sebagian kecil wilayah Papua bagian selatan.

Namun, setelah El Nino, ada potensi hujan deras berlebihan hingga menimbulkan banjir di sejumlah wilayah Indonesia. ”Jadi, saat ini, sebenarnya kesempatan bagus untuk memperbaiki dan mengatur irigasi dan saluran air,” kata Andi.

Perombakan

Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia Arif Satria menilai, kerja sama antarlembaga yang mengurusi pangan masih perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi dampak dari kekeringan. Saat ini, koordinasi antarlembaga yang mengurusi pangan, seperti Bulog, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan, belum optimal.

”Menteri Pertanian sering menyalahkan Bulog karena tidak mau menyerap beras dari petani. Namun, Bulog tidak mampu menyerap 4 juta ton beras seperti keinginan Presiden karena harga beli Bulog lebih rendah dibandingkan harga di pasar. Saat pemerintah membeli harga gabah kering panen Rp 3.700 tiap kilogram, harga di pasar sudah lebih tinggi,” kata Arif.

Ketua DPP PDI-P Andreas Pareira menambahkan, wacana pergantian kabinet yang muncul beberapa saat lalu membuat sejumlah menteri ditengarai kehilangan fokus dalam bekerja. Untuk mengatasi hal ini, Presiden perlu segera memberi kepastian terkait jadi tidaknya pergantian kabinet tersebut.

Hasil survei Litbang Kompas pada 25 Juni-7 Juli 2015 dengan 1.200 responden, penilaian publik terhadap Kabinet Kerja Jokowi-Kalla masih terhitung seimbang. Di satu sisi, kabinet masih punya modal sosial yang cukup besar untuk memperbaiki program-program pembangunan dan layanan publik. Namun, di sisi lain juga menyimpan dorongan bagi pergantian menteri yang dinilai kurang kapabel.

Persetujuan terhadap wacana perombakan kabinet lebih banyak datang dari pemilih partai politik yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih. Pemilih parpol anggota Koalisi Indonesia Hebat cenderung menolak perombakan Kabinet Kerja.

Semakin tinggi pendidikan responden, dukungan untuk merombak kabinet makin besar.

(B04/WHY)

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150809kompas/#1

Jumat, 07 Agustus 2015

Presiden Jokowi Diminta Copot Rini Soemarno

Jum'at, 7 Agustus 2015

JAKARTA - Sejumlah orang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat untuk Indonesia Bersih (AMIR) berunjuk rasa di Kementerian Badan Usaha Milik Negara. Mereka meminta Presiden Joko Widodo mencopot Menteri BUMN Rini Soemarno.

Para pengunjuk rasa membawa spanduk dan poster bertuliskan “BUMN Milik Rakyat Bukan Milik Mafia!!!, BUMN Ujung Tombak Perekonomian Nasional Bukan Sapi Perahan dan Bu Rini Kembalilah ke Nawacita, Kalau Tidak Mampu Mundur!!!.”

Rhugby AS selaku koordinator aksi dalam orasinya menyampaikan bahwa selama ini BUMN sudah terbukti menjadi tulang-punggung perekonomian di sejumlah negara, termasuk Tiongkok. Namun di Indonesia sejumlah BUMN papan atas dibiarkan terus merugi akibat kesalahan manajemen dan dugaan adanya kepentingan melekat yang membuat sejumlah BUMN dibajak oleh 'mafia' bisnis yang bertahun-tahun hidup dari tidak optimalnya pengelolaan itu.

"Dengan dasar itulah, kami meminta Presiden Jokowi segera mencopot Menteri Rini Soemarno dari jabatannya," ujar Rhugby di Jakarta, Jumat (7/8/2015).

Menurutnya, dibutuhkan Menteri BUMN yang bersih dari kepentingan melekat (vested-interested) sehingga mampu bertindak tegas untuk mewujudkan BUMN yang handal dalam menjalankankan fungsi strategis sebagaimana yang diperintahkan oleh undang-undang. "Rini Soemarno bukan figur yang tepat menduduki posisi Menteri BUMN," tegasnya.

Ke depannya, imbuh Rhugby, Presiden Jokowi harus mencari figur yang tepat guna menggantikan Rini Soemarno. "Menteri BUMN sejatinya selain profesional, berintegritas juga memiliki komitmen kebangsaan yang kuat," bebernya.

(ful)
http://news.okezone.com/read/2015/08/07/337/1192464/presiden-jokowi-diminta-copot-rini-soemarno

Kembali Menguji Optimisme Ganjar

Kamis, 6 Agustus 2015

“Perlu segera merealisasikan pembangunan embung supaya lahan tadah hujan tetap produktif”

KENDATI wilayahnya dilanda kekeringan, bahkan 5 kabupaten darurat kekeringan, sebagaimana dinyatakan BNPB (SM, 4/8/15), Gubernur Ganjar Pranowo optimistis Jateng tahun ini surplus padi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Benarkah? Ganjar menargetkan produksi padi tahun ini 12 juta ton, lebih tinggi 2 ton dari rata-rata produksi tiap tahun. Padahal data BPS Jateng menunjukkan 2014 produksi gabah kering giling (GKG) provinsi berpenduduk 33 juta jiwa ini turun hingga 696.712 ton atau 6,73%. Bila 2013 mencapai 10,34 juta ton, tahun 2014 hanya 9,65 juta ton, dan itu sumbangan angka penurunan terbesar secara nasional dibanding provinsi lain. Penurunan ini dipicu oleh musim hujan sehingga terjadi penyusutan luas panen 44,54 ribu ha, dan produktivitas tanaman padi pun turun 0,33%. Musim kemarau yang diharapkan menjadi masa ”kebangkitan” justru sebaliknya.

Pasalnya, banyak padi mengalami puso atau gagal panen akibat kekurangan air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jateng memprediksi wilayah ini mengalami kekeringan dan kemarau panjang hingga Januari 2016. Jateng akan berada di titik terdekat dengan matahari pada 22 September 2015. Dampak musim kemarau pun makin dirasakan oleh sejumlah daerah. Sejak awal Juli 2015, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng melaporkan 10 daerah mengalami krisis air. Saat ini sudah 487 desa di provinsi ini mengalami krisis air. Daerah yang mengalami kekeringan meliputi Rembang, Blora, Grobogan, Pati, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Tegal, Pemalang, Purworejo, Jepara, Demak, dan Kebumen.

Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jateng memaparkan, kawasan pantura menjadi daerah yang mengalami kekeringan parah seperti Brebes, Tegal hingga Pemalang, lalu mulai Demak hingga ke timur. Selain kawasan pantura, kekeringan juga terjadi di selatan Surakarta seperti Karanganyar, Sragen dan Wonogiri. Kekeringan yang terjadi saat ini karena persediaan air hanya 50% dari kebutuhan. Bahkan untuk daerah seperti Karanganyar, Wonogiri dan Sragen persediaan air sudah di bawah 50%. Dari 39 waduk di Jateng, setidak-tidaknya ada lima waduk mengalami kekeringan, yakni Waduk Brambang, Blimbing, dan Botok di Sragen, Waduk Gunungrowo di Pati, dan Waduk Sanggeh di Grobogan. Adapun 15 waduk lainnya terancam kekeringan pada Agustus ini. Akibatnya, sejumlah lahan pertanian yang akan memasuki masa panen mulai kesulitan air, seperti di Pati, Brebes, dan Tegal. Sebagian besar lahan pertanian di Brebes sisi utara jalur pantura terpaksa ditelantarkan, membentang di wilayah pesisir empat kecamatan, yakni Losari, Tanjung, Bulakamba, Wanasari. Di Bulakamba saja, total luas sawah yang ditinggalkan petani mencapai 1.000 ha. Bagikan Pompa Di Tegal, 300 ha lahan pertanian produktif juga sudah mengalami kekeringan, terdapat di tiga kecamatan, yakni Kramat, Suradadi, dan Warureja, serta kekeringan kemungkinan juga terjadi di dua kecamatan lain, yakni Dukuhturi dan Pagerbarang. Ironisnya, dalam mengatasi kekeringan, pemerintah membagikan pompa air.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Gatot Irianto menyatakan, kementeriannya telah menyiapkan 36.000 pompa air. Selain itu, membagikan traktor dan merehabilitasi jaringan irigasi tersier, termasuk di Demak dan Grobogan yang merupakan daerah endemik. Padahal petani rata-rata sudah memiliki pompa air dan kalau pun tidak punya, biasanya meminjam tetangga. Yang diperlukan saat ini sesungguhnya pembuatan sumur-sumur bor. Ini solusi jangka pendek. Bagaimana solusi jangka menengah dan panjang? Pemerintah harus segera merealisasikan program pembangunan embung, sumur dalam, dan sumur dangkal supaya lahan tadah hujan tetap produktif. Tahun ini pemerintah berencana membangun embung direncanakan hingga 20 ribu se-Indonesia, dengan anggaran Rp 2,2 triliun. Di Boyolali, Mentan Amran Sulaiman berencana membangun 100 sumur dangkal di lokasi pertanian lahan tadah hujan. Jumlah sumur dangkal 100 titik ini masih bisa bertambah sesuai permintaan petani. Adapun untuk sawah irigasi, perbaikan saluran irigasi dari primer, sekunder hingga tersier tak bisa dielakkan lagi. Hampir 66% infrastruktur irigasi milik kabupaten/kota di Jateng rata-rata rusak, meskipun infrastruktur irigasi milik provinsi 78% dalam kondisi baik, bahkan mendapat penghargaan terbaik se-Indonesia. Berkaca dari fenomena itu, terutama cara jangka pendek pemerintah mengatasi kekeringan, tampaknya optimisme Ganjar bahwa Jateng akan surplus padi tahun ini masih perlu diuji. (10)

— Ir Suharto Wongsosumarto, alumnus Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/kembali-menguji-optimisme-ganjar/

Kamis, 06 Agustus 2015

Alihkan Wewenang Impor Pangan Kepada Bulog

Kamis, 06 Agustus 2015

JAKARTA  –  Guna  meningkatkan  pendapatan  petani  dan  mengurangi  pengeluaran  devisa  untuk  impor  yang  kini  jumlahnya  mencapai  17  miliar  dollar  AS,  pemerintah  sebaiknya  mengembalikan  wewenang  impor  pangan  kepada  Bulog.

Pemberdayaan  Bulog  ini  juga  akan  memberikan  keuntungan  kepada  pemerintah,  sebab  pendapatan  dari  impor  kembali ke kas negara.

Ahli  statistik  ITS  Surabaya,  Kresnayana  Yahya,  mengungkapkan  sekarang  ini  impor  gandum  sudah  8  juta  ton,  impor  kedelai  4  juta  ton,  impor  gula hampir 2,1 juta ton, belum  lagi bawang merah dan bawang  putih  serta  lain-lainnya  yang  nilainya  sudah  mencapai  17  miliar dollar AS.

“Kenyataan ini  menjadikan  Indonesia  sebagai  negara importer bukan produsen  pangan.  Padahal,  kalau  pemerintah bisa berhemat mengeluarkan devisa impor, manfaatnya  akan  langsung  dirasakan  oleh  rakyat.  Di  antaranya,  cadangan devisa akan menguat  dan Bank Indonesia tidak perlu  terengah-engah  menjaga  stabilitas  nilai  tukar  rupiah  serta  masyarakat tidak perlu pegang  dollar AS lagi,” kata Kresnayana  saat dihubungi, Rabu (5/8).

Kresnayana  menjelaskan,  bersamaan  pemberian  wewenang  impor  pangan  kepada  Bulog,  pemerintah  juga  harus  merealisasikan  Badan  Pangan  seperti  yang  telah  diamanatkan  Undang-Undang  No.  18  Tahun  2012  tentang  Pangan.

“Terbentuknya Badan Pangan ini penting  agar  wewenang  Bulog  sebagai  pemasok  sekaligus  penyanggah  pangan  nasional  bisa  berjalan.  Untuk  itu,  pimpinan  Bulog  harus benar-benar bersih dan bertanggung jawab ke presiden, yaitu Badan Pangan,” ujarnya.

Menurut  Kresnayana,  pemberian  wewenang  kepada  Bulog  secara  tidak  langsung  melindungi  petani.  Sebab,  Bulog  dan  jaringannya  telah  berpengalaman sebagai penyanggah  saat  kekurangan  atau  setelah  panen.

“Daripada semua (menteri) urusi impor lebih baik serahkan saja kepada Bulog, jadi  satu pintu. Pedagang cukup 25  persen  saja.  Biarkanlah  keuntungan masuk ke negara bukan  ke 11 importir. Pemberian wewenang  impor  pangan  kepada  Bulog  juga  akan  menekan  terjadinya rent seeking,” katanya.

Ganti Menteri

Dijelaskan,  yang  bisa  melindungi  petani  hanya  negara.  Sebab,  kalau  hanya  melindungi  pedagang  tidak  perlu  jabatan setingkat menteri. Lagi  pula,  masih  ada  menteri  yang  tidak bisa membedakan antara  gula untuk rakyat dan industri.  Menteri  bersangkutan  juga  tidak mengerti bea tarif yang tidak melindungi petani.

Selain  itu,  upaya  menekan  Australia  dengan  mengurangi  impor  sapi  namun  tetap  masih  impor dari sapi India, yang dikenal  sebagai  negara  yang  tidak  bebas penyakit mulut dan kuku,  terkesan  hanya  main.  Seharusnya, menteri terkait menyatakan:  setop  impor  sapi  dari  Australia  dan bangun industri peternakan  secara  besar-besaran  di  dalam  negeri.

“Ini pentingnya pergantian  menteri  segera  mungkin.  Kalau  Jokowi  tidak  menyadari  pentingnya  pergantian  menteri  berarti dia juga tidak menyadari  bahayanya  ini  bagi  negara,”  tegas Kresnayana.

Kresnayana  menambahkan,  konservasi  cadangan  devisa  hanya  bisa  dilakukan  dengan  mengurangi  impor.  Selain  itu,  kekurangan  pangan  bisa  dengan  membantu  petani  yang  menghasilkan  bahan  pangan  yang  menguntungkan.

“Artinya, bukan sekadar supply dan  demand, tapi harus punya strategi  dan  peduli  pada  petani.  Masa  menteri  belajarnya  cuma  supply demand, siapa pun juga  bisa. Malah, di saat sekarang ini  masih  bicara  impor  sapi,  beras  dan gula. Ini kan belum melek.  Kalau jawabnya karena kita kekurangan, orang kecil pun bisa.”

Dihubungi  terpisah  pakar  pertanian  UGM  Yogyakarta,  Jangkung  Handoyo  Mulyo,  mengatakan  biang  keladi  dari  ruwetnya  tata  niaga  gula,  adalah  tidak  adanya  neraca  produksi  dan  konsumsi  gula  secara  nasional. Sehingga menteri terkait  bisa  mengklaim  apapun,  impor  maupun tidak impor.

Bahkan tekanan dari para produsen pengolah  gula  rafinasi  bisa  memutuskan impor atau tidak impor “Akhirnya  tiap  ada  keputusan  apapun  selalu  menimbulkan  keresahan,  terutama  di  kalangan  petani  yang  aksesnya  lemah.  Negara  kan  mustinya  melindungi  yang  lemah  bukan  malah memberi jalan yang kuat  untuk mematikan yang lemah,”  kata Jangkung.

Petani  memerlukan  kepastian  bahwa  hasil  produksinya  bisa diserap pasar dengan harga  yang   memberi  keuntungan.  Tapi  sayangnya  tanpa  tata  niaga  yang  berbasis  data  neraca  gula  yang  dapat  dipercaya,  petani sering mendapati harga gulanya kalah dengan gula impor.

Jangkung  menyebut  setelah  neraca  gula  ada,  sumber  daya  yang ada harus dikerahkan untuk mengawasi tidak terjadinya  rembesan gula rafinasi impor ke  pasar konsumen rumah tangga. n SB/YK/tgh/AR-2

http://www.koran-jakarta.com/?34056-alihkan%20wewenang%20impor%20%20pangan%20kepada%20bulog

Sumsel Siap Panen Padi 100.000 Hektar

Kamis, 6 Agustus 2015

PALEMBANG, KOMPAS — Pada puncak musim kemarau ini, sekitar 100.000 hektar tanaman padi di Sumatera Selatan siap panen pada akhir Agustus hingga September. Sawah siap panen ini merupakan sawah rawa-rawa yang menjadi kantong produksi beras pada musim kemarau. Dinas pertanian setempat terus mengawasi persawahan tersebut agar selamat dari kekeringan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumsel Erwin Noorwibowo, di Palembang, Selasa (5/8), mengatakan, sawah rawa-rawa atau biasa juga disebut sawah lebak terdapat di Kabupaten Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Ilir. "Saat ini tanaman-tanaman itu hampir panen. Puncak panen raya nanti pada akhir Agustus dan September. Kami optimistis panen selamat," katanya.

Di luar musim kemarau, sawah lebak adalah rawa-rawa sehingga tak dapat ditanami. Air yang menggenang setinggi 1 meter hingga 1,5 meter itu menyusut pada musim kemarau sehingga membuka lahan tanaman padi.

Menurut Erwin, guna mengantisipasi kekeringan, pemerintah kabupaten dan kota diminta mengusulkan dana alokasi khusus langsung kepada pemerintah pusat. Usulan itu berupa pengadaan embung, pompa air, sumur bor, dan parit dangkal. Upaya-upaya ini ditempuh agar tanaman selamat dari kekeringan.

Sejauh ini, 25.000 hektar tanaman padi di Sumsel mengalami kekeringan. Sebanyak 24.000 hektar termasuk kategori kekeringan sedang dan 1.000 hektar kekeringan berat. Kekeringan sedang terjadi di Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Ilir. Kekeringan berat terjadi di sawah pasang surut di Banyuasin. Berkurangnya air di sawah pasang surut di Banyuasin diperparah intrusi air laut.

Namun, Erwin memastikan kekeringan belum sampai berdampak pada target panen beras Sumsel tahun ini. Ia optimistis panen Sumsel yang tahun ini ditargetkan sebanyak 4,7 ton gabah kering giling per hektar akan tercapai. Belum ada laporan gagal tanam dan gagal panen. Luas tanam Sumsel tahun 2015 hingga Agustus ini 820.000 hektar dari target 1 juta hektar.

Dari Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dilaporkan, hasil panen padi musim kemarau saat ini merosot drastis dibandingkan dengan sebelumnya. Dengan kondisi ini, sejumlah petani di Kabupaten Magelang mengosongkan lahan hingga musim hujan tiba.

Hamid, petani asal Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, mengatakan, kondisi air di sungai kini juga menyurut. Dengan kondisi itu, ia tidak berani menanam palawija.

Krisis air

Dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dilaporkan, musim kemarau juga mengakibatkan kekeringan di Kabupaten Kotawaringin Timur. Akibatnya, krisis air bersih terjadi di tiga kecamatan, yaitu Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, dan Pulau Hanaut. Sedikitnya 39.401 jiwa membutuhkan bantuan distribusi air bersih.

"Hari ini adalah distribusi air bersih tahap ke-4 kepada warga. Ada 17 tangki air bersih yang dibagikan," kata Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kotawaringin Timur Agus Mulyadi.

Camat Mentaya Hilir Selatan Jumri mengatakan, warga di 10 desa di kecamatannya kesulitan mendapatkan air bersih karena air Sungai Mentaya bercampur dengan air laut.

"Warga desa tinggal di hilir Sungai Mentaya. Air sungai menjadi payau sehingga tidak bisa diminum. Warga biasanya menampung air hujan untuk keperluan sehari-hari, tetapi pasokan menipis karena hujan tidak lagi turun," ujar Jumri.

Distribusi air secara bertahap terus dilakukan sejak Kamis (30/7). Distribusi air juga dibantu perusahaan-perusahaan besar perkebunan. Selain itu, pemerintah kabupaten menyediakan dana Rp 16 miliar untuk membuat sumur bor di setiap desa dengan kedalaman 90 meter.

Di Kabupaten Malang, Jawa Timur, BPBD setempat mulai mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga yang mengalami krisis. Bantuan air baru diberikan kepada warga dua desa di dua dari delapan kecamatan yang rawan krisis air.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Malang EK Hafi Lutfi, Rabu, mengatakan, dua desa yang mendapat bantuan air bersih adalah Wonorejo, Kecamatan Singosari, dan Karangkates, Kecamatan Sumberpucung. Kecamatan lain yang rawan krisis air adalah Kalipare, Donomulyo, Bantur, Pagak, dan Lawang.

Slamet, warga Desa Tumpakrejo, Kecamatan Kalipare, mengatakan, air di sumur warga umumnya telah menyurut akibat kemarau. (WER/IRE/EGI/DKA)

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150806kompas/#/24/

Jateng berstatus darurat kekeringan

Rabu, 5 Agustus 2015

"Sekarang lagi pnyusunan, mungkin dalam 1--2 hari keluar keputusan mengenai status siaga darurat kekeringan (tingkat provinsi),"

Semarang (ANTARA News) - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai Provinsi Jateng sudah bisa masuk kategori status siaga darurat kekeringan.

Berdasarkan kajian kondisi yang terjadi di sejumlah kabupaten/kota, kata Ganjar di Semarang, Rabu, sudah layak untuk dinyatakan darurat kekeringan sehingga biar semua bisa gunakan anggaran-anggaran yang bersifat respons cepat.

Menurut Ganjar, saat ini sedang penyusunan keputusan siaga darurat kekeringan untuk tingkat provinsi agar pencairan dana tak terduga dapat segera dilakukan.

"Sekarang lagi pnyusunan, mungkin dalam 1--2 hari keluar keputusan mengenai status siaga darurat kekeringan (tingkat provinsi)," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Tengah Sarwa Pramana mengungkapkan bahwa Kabupaten Temanggung, Kendal, Cilacap, Wonogiri, dan Boyolali telah menyatakan status siaga darurat kekeringan.

"Dengan adanya lima daerah yang menyatakan siaga darurat kekeringan, Gubernur Jateng diharapkan segera mengeluarkan keputusan siaga darurat kekeringan untuk tingkat provinsi," katanya.

Salah satu persyaratan dikeluarkannya keputusan Gubernur Jateng mengenai siaga darurat kekeringan, kata dia, adalah dua kabupaten/kota atau lebih telah menyatakan kondisi kedaruratan dalam menghadapi kekeringan.

"Kalau kabupaten/kota belum menyatakan siaga darurat kekeringan, pemerintah provinsi tidak bisa menyatakan hal serupa karena yang terdampak adalah wilayah di daerah," ujarnya.

Sarwa mengungkapkan bahwa 16 kabupaten/kota, termasuk lima daerah yang menyatakan siaga darurat kekeringan, mengajukan bantuan dana tak terduga sebesar Rp8,6 miliar ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

"Dana tak terduga itu akan digunakan untuk program jangka panjang dalam mengatasi kekeringan, seperti pipanisasi dari mata air di pegunungan dan pembuatan sumur pantek terus disalurkan ke rumah-rumah warga," katanya.

Dengan program-program jangka panjang itu, kata dia, luasan daerah yang terdampak kekeringan dapat terus berkurang karena pengadaan air bersih tidak menyelesaikan permasalahan.

Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, musim kemarau pada tahun akan terus meluas di daerah lainnya dan terjadi hingga November 2015.

Editor: Ruslan Burhani

http://www.antaranews.com/berita/510781/jateng-berstatus-darurat-kekeringan