Selasa, 27 Januari 2015

Suplai Diharapkan Tepat Waktu

Selasa, 27 Januari 2015

BANYUWANGI, KOMPAS — Musim tanam di Banyuwangi, Jawa Timur, diperkirakan serentak pada awal Februari. Pemerintah diminta menyediakan pupuk tepat waktu.
Sebagian besar lahan pertanian, seperti di Kecamatan Banyuwangi, Kabat, Rogojampi, Singojuruh, Songgon, Sempu, Srono, Muncar, dan Cluring, masih dalam tahap pengolahan tanah dan persemaian bibit padi. Kurang lebih sepekan lagi petani memasuki masa tanam awal.

Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Banyuwangi Suyitno, Senin (26/1), mengatakan, mendekati masa tanam petani mulai membutuhkan pupuk, terutama urea. Pemupukan tepat waktu penting untuk menjaga produktivitas pertanian. Tahun lalu, saat pupuk terlambat diperoleh, hasil panen petani berkurang dari 5,6 ton menjadi 5,4 ton per hektar.

Kepala Bidang Pertanian dan Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi Pratmadja Gunawan mengatakan, pupuk bersubsidi sudah mulai disalurkan ke petani sejak awal Januari lalu. Hingga 15 Januari, pupuk yang sudah disalurkan ke petani di Banyuwangi sebanyak 5.156 ton pupuk urea, 1.480 ton ZA, 1.464 ton SP-36, 3.291 ton NPK, dan 3,097 ton pupuk organik. Jumlah tersebut 35-40 persen dari jatah pupuk pada bulan Januari.

Untuk menghindari kelangkaan pupuk seperti yang terjadi tahun lalu, distribusi pupuk dipercepat.

”Alokasi bulan ini sudah disiapkan. Jika kurang, alokasi Februari bisa diturunkan sebelum terjadi kelangkaan pupuk. Sejauh ini, kebutuhan dan jumlah alokasi pupuk sama. Jadi, seharusnya tak ada lagi kelangkaan pupuk subsidi,” katanya.

Pada 2014, pupuk sempat langka karena distribusi ke daerah-daerah terpencil terkendala persoalan teknis, yakni terbatasnya armada milik agen pupuk. Selain itu, petani yang mempunyai lahan hortikultura tak mencantumkan kebutuhan pupuk sehingga pasokannya tak sesuai dengan kebutuhan.

Organik
Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, petani didorong lebih banyak menggunakan pupuk organik dan menerapkan pemupukan berimbang. Hal itu untuk menyiasati kelangkaan pupuk dan memulihkan struktur kesuburan tanah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro Ahmad Djupari menyatakan, penggunaan pupuk organik secara terus-menerus bisa menghasilkan panen seperti halnya pupuk kimia.

”Kami mendorong petani menggunakan pupuk kandang dan pupuk organik karena itu bisa memulihkan agregat kesuburan tanah,” katanya.

Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, masa krisis pupuk telah teratasi. Stok pupuk mencukupi, sedangkan masa pemupukan sudah terlampaui.

Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu Sutatang menuturkan, ada beberapa kecamatan di Indramayu yang tidak lagi memerlukan banyak pupuk. Sebab, usia tanaman padi sudah tak memerlukan banyak pupuk. Biasanya tanaman memerlukan banyak pupuk saat masa tanam awal hingga usia 15 hari. (NIT/ACI/REK)

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150127kompas/#/19/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar