Jumat, 11 September 2015

Arah Swasembada Pangan Masih Terseok

Kamis, 10 September 2015
Arah Swasembada Pangan Masih Terseok

Prof Dwi Andreas Santosa/Ist

Tabanan, dipabali.com – Mimpi menjadikan Indonesia sebagai negara yang berswasembada pangan tampaknya masih jauh dari harapan. Meski hal itu terus didengung-dengungkan oleh pemerintahan yang kini dikendalikan duet Jokowi-JK. Pasalnya, konsep pembangunan yang mengarah pada kedaulatan pangan masih berjalan terseok-seok.

“Arah pembangunan kita salah satunya kedaulatan pangan. Walaupun jalannya sejauh ini masih terseok-seok. Apalagi tembok birokrasi kita masih begitu luar biasa tingginya,” ujar Prof Dwi Andreas Santosa dalam Forum Curah Gagasan yang digelar Bappeda Kabupaten Tabanan di Desa Wanasari, Tabanan, Kamis (10/9). Acara itu sendiri diikuti oleh para petani dan kalangan akademisi.

Salah satu guru besar Fakultas Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengungkapkan ada beberapa program yang ternyata tidak sejalan dengan konsep yang dirancang semasa dirinya masih bertugas bersama akademisi lainnya di Pokja Tim Transisi Jokowi-JK.

Beberapa di antaranya, soal produksi pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan para petani yang menerapkan konsep budidaya organik. Pun demikian halnya dengan kegiatan penyuluhan.

Terkait pupuk organik, sambungnya, produksinya diserahkan kepada perusahaan yang belum tentu dalam proses pembuatannya tidak menerapkan konsep organik. Sehingga baginya program untuk menyuplai pupuk organik bagi para petani tidak lebih dari pembodohan kepada para petani.

“Padahal Rp 800 M uang rakyat ada di sana. Idealnya transfer langsung uangnya ke petani. Sehingga petani bikin pupuk organik langsung. Tidak seperti sekarang. Malah ada yang dipaketkan. Beli urea dipaketkan dengan organik,” ujarnya mengkritisi.

Sedangkan soal penyuluhan, diakuinya hal itu sangat penting. Tapi ada satu hal yang membuat dirinya kecewa. Terutama saat mengetahui bahwa penyuluhan dilakukan oleh Babinsa. Padahal, dalam konsep besar sesuai dokumen yang telah dipegang Bappenas adalah penyuluhan swakarsa.

“Pendampingan itu penting. Tapi jujur saja saya kecewa ketika penyuluhan dilakukan Babinsa. Ini sama sekali tidak masuk akal karena Babinsa tidak dilatih untuk petani. Apa tidak kebalik-balik jadinya,” pungkasnya. (CA/DB)

http://dipabali.com/index.php/2015/09/10/arah-swasembada-pangan-masih-terseok/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar