Senin, 17 Agustus 2015

Ironis, 70 Tahun Indonesia Merdeka, Garam Masih Impor

Senin, 17 Agustus 2015

Jakarta_Barakindo- Indonesia adalah negeri yang lebih dari setengah abad merdeka tapi masih mengimpor garam. Dan ternyata bukan hanya garam yang diimpor, sampai sekarang beras dan daging pun di impor. Hal ini membuat Menteri Susi Pujiastuti  geram dan menyebut ada “Lima Samurai” pelaku Mafia Garam yang membuat Indonesia tetap mengimpor garam.

"Padahal sekarang produksi garam kita untuk rumah tangga  mengalami surplus 300-500 ribu ton. Jadi tidak ada alasan untuk terus-menerus lakukan impor, baik garam untuk rumah tangga maupun industri".

Demikian diungkapkan Koordinator Relawan Jokowi-JK, S Indro Tjahyono, Minggu (16/8/2015). Menurutnya, potensi Indonesia untuk membuka ladang garam adalah seluas 28.000 hektar, dan jika digarap dengan teknologi geomembran dapat menghasilkan 100 ton per hektar setiap musim, yang dapat mencukupi kebutuhan semua jenis garam dalam negeri.

"Sangat disayangkan potensi ini tidak di lirik sama sekali oleh pemerintah yang hanya mendengar bisikan para Mafia Garam," ujarnya.

Saat ini, kata dia, Indonesia menjadi pengimpor garam terbesar dari Australia (733.000 ton senilai 34,2 juta US dolar), India (189.000 ton senilai 7,89 juta US dolar), dan Jerman (177.000 ton senilai 445 ribu US dolar). Selain itu dalam jumlah kecil garam juga diimpor dari Selandia Baru (816 ton senilai 325 ribu US dolar) dan Singapura (663,9 ton senilai 142 ribu US dolar), sehingga volume impor garam Indonesia setiap tahun adalah 2.579 ton atau setara Rp 600 miliar lebih per tahun.

"Angka-angka tersebut tentu ironis dan sekaligus fantastis. Karena dengan areal ladang atau tambak garam hanya seluas 5.000 hektar dan suntikan dana sebesar Rp 500 miliar pada tahun 2015 selama 8 bulan musim kemarau , kita bisa memproduksi 4,6 juta ton garam kualitas nomor satu melebihi kebutuhan tahun 2014 yang sebesar 4 juta ton, terdiri dari 2,2 juta ton garam industri dan 1,8 juta ton garam rumah tangga. Bahkan tidak sulit untuk menggenjot produksi garam sampai 120 ton perhektar setiap musim," ungkap pria yang juga pemerhati bidang pangan.

Ketergantungan Indonesia terhadap garam impor, lanjut S Indro, sama saja membunuh petani garam yang selama  ini loyal menggarap komoditas bermargin tipis. "Ini akibat permainan Mafia Garam,”tegasnya.

Karenanya, selain Menteri Kelautan dan Perikanan, DPRD provinsi Jawa Timur juga sudah membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk memberantas Mafia Garam. Pasalnya, selama ini disinyalir, "mafia" garam bermain dengan oknum-oknum di pelabuhan (PT Pelindo) dan oknum-oknum di Kementerian Perdagangan (Kemendag) dengan memalsukan dokumen impor.

Pria yang selama ini giat mengkampanyekan kedaulatan pangan itu menegaskan, sudah saatnya Presiden Jokowi memperhatikan para petani garam yang turut menyumbang devisa, namun hidup dalam keperihatinan. "Inilah kesempatan Presiden Jokowi untuk mewujudkan visi Nawacita yang ingin membangun Indonesia dari pinggiran. Presiden harus tegas dan nyata mengambil tindakan tegas untuk memberantas Mafia Garam  tanpa pandang bulu,” pungkasnya. (Redaksi)*

http://beritabarak.blogspot.com/2015/08/ironis-70-tahun-indonesia-merdeka-garam.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar