Selasa, 04 Agustus 2015

Siswono, Megawati, dan Impor Beras

Selasa, 4 Agustus 2015


JAKARTA, KOMPAS - Ini peristiwa 12 tahun lalu di kediaman Presiden kelima RI (waktu itu), Megawati Soekarnoputri, di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Rabu sore itu, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Siswono Yudo Husodo menemui Megawati. Seusai pertemuan, Siswono bicara kepada pers yang menunggunya di depan kediaman Megawati.

Siswono, Menteri Negara Perumahan Rakyat (1988-1993) dan Menteri Transmigrasi (1993-1998), saat itu berani terus terang mengecam keras salah seorang anggota Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Megawati.

Siswono yang kritis sejak masa pemerintahan presiden kedua RI, Soeharto, di rumah Megawati mengecam kebijakan soal bea masuk impor beras yang terlalu rendah. Dengan tarif yang rendah, Siswono gelisah karena bidang pangan di Indonesia semakin didominasi oleh impor pangan.

Di hadapan wartawan yang mengerubunginya di trotoar Jalan Teuku Umar, atau persis di depan rumah Megawati, Siswono menyatakan, seperti tidak ada ideologi untuk membangun kemandirian di bidang pangan. Saat ditanya apakah pernyataan tersebut disampaikan langsung seperti itu kepada Presiden, Siswono mengatakan, dengan gaya khasnya, "Oh, ya, pasti saya kemukakan."

Menurut Siswono, akibat orientasi pada bisnis, paha ayam dari Amerika Serikat masuk ke Indonesia dengan tarif bea masuk nol. Akibatnya, peternak ayam terancam. "Ini mematikan ribuan peternak ayam di Indonesia. Selain itu, pakaian bekas dari Jepang dan Amerika juga masuk dan dijual di jalan-jalan di Indonesia dengan harga Rp 4.000 per lembar sehingga pabrik konveksi dan garmen tutup semua, mati. Ini karena menterinya hanya berorientasi bisnis," ujar Siswono waktu itu (Kompas, Kamis 6 Februari 2003).

Di depan Megawati, Siswono juga terus terang memberi peringatan, jika sampai panen padi pada April mendatang (2003) bea masuk impor beras tidak juga dinaikkan dan harga beras (di Indonesia) belum juga naik, ia (Siswono, selaku Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) akan memberi kesempatan kepada petani untuk datang ke Jakarta serta berdemonstrasi di depan kantor Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag).

Menurut Siswono, setelah keluhan itu disampaikan, Megawati mengatakan, harga pangan memang harus naik. Tujuannya, agar ada rangsangan petani Indonesia membangun kemandirian.

"Ibu Presiden menggariskan, kita perlu merancang langkah-langkah agar pada waktunya kita mandiri di bidang pangan. Ibu Presiden menguasai bidang pertanian dan sangat mengerti bahwa harga beras itu memang harus naik," ujarnya. Menurut Siswono, saat itu, Megawati berharap Indonesia jangan bergantung pada impor beras.

Kamis, 10 April 2003, sekitar 3.000 petani dari sejumlah daerah datang dan berunjuk rasa di Jakarta, termasuk ke depan Deperindag. Petani menilai pemerintah tak melindungi produk pertanian dalam negeri. Para pengunjuk rasa ini diterima antara lain oleh Dirjen Perdagangan Luar Negeri Sudar SA, yang mengatakan bahwa Deperindag berupaya melindungi petani.

Pada Jumat pagi, 24 Juli 2015, ketika diingatkan tentang pernyataan sikapnya di tempat tinggal Megawati, Siswono hanya mengatakan, "Saya lupa itu, sudah 12 tahun lalu, kini tentu konteksnya berbeda."

"Oke, silakan, tidak mengapa," kata Siswono ketika diberi tahu hal itu akan ditulis kembali. Konteks memang beda. Namun, ingat ucapan filsuf, ahli pidato, dan politikus pada masa Republik Roma Cicero (106-43 sebelum Masehi), historia magistra vitae, nuntia vetustatis, sejarah adalah guru kehidupan, pesan dari masa lalu. (J Osdar)

http://nasional.kompas.com/read/2015/08/04/15011301/Siswono.Megawati.dan.Impor.Beras

Tidak ada komentar:

Posting Komentar