Sabtu, 02 November 2013

Pemerintah Belum Propetani

1 November 2013

Ingin Bertemu SBY, Demo Mahasiswa Ricuh

Padang, Padek—Kedatangan Presiden Su­silo Bambang Yudhoyono (SBY) pada pe­ringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) di jalan Bypass Padang, disambut aksi un­juk rasa mahasiswa Universitas Bung Ha­t­ta dan Universitas Negeri Padang.

 Mahasiswa yang ingin bertemu presi­den, berusaha menerobos blokade polisi. Aki­­batnya, aksi saling dorong tak tere­lak­kan. Unjuk rasa yang dimulai sekitar pu­kul 10.00 itu dihadiri puluhan ma­ha­sis­wa. Mahasiswa UBH dan UNP, tidak men­­­jalankan aksi secara terpisah. Maha­sis­­wa UBH tertahan di gerbang kampus me­reka di Aipacah. Sedangkan belasan m­a­hasiswa UNP tertahan di depan kantor Wa­li Kota Padang, juga di Aiapacah.

Mahasiswa UBH yang tergabung da­lam Mahasiswa Sumbar Peduli Pangan ini menilai pemerintah tidak pernah ber­pi­hak kepada rakyat. Berbagai kebija­kan yang dihasilkan, seperti UU Penanaman Mo­­dal, UU Perlindungan dan Pem­ber­da­yaan Petani, dan peraturan perun­dang-un­­dangan lainnya hanya menguntungkan pe­rusahaan, khususnya perusahaan asing. Dalam berbagai kasus, masyarakat se­lalu dirugikan.

Pertemuan Organisasi Pangan dan Pe­r­tanian di Padang sejak 31 Oktober-3 No­­vember 2013 dianggap hanya mem­ba­has pentingnya peran perusahaan dalam me­wujudkan kedaulatan pangan.

 ”Sedangkan kita tahu kedau­latan hanya ada jika rakyat yang memegangnya,” ujar salah se­orang orator mahasiswa.

UU No 19 Tahun 2013 ten­tang Perlindungan dan Pem­ber­dayaan Petani, judulnya me­mang menarik, tapi ketika dit­eli­sik, isinya ternyata mem­perda­yai petani. Petani diwajib­kan menanam tanaman yang men­jadi program nasional. Maha­sis­wa memaparkan, Sumbar me­rupakan daerah agraris. Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2013 mencatat adanya pe­nyu­sutan 5,04 juta keluarga tani da­ri 31,27 juta keluarga pada 2013 menjadi 26,13 juta k­e­luar­­­ga pada tahun 2013. Di­pe­rio­­de sama, jumlah pe­rusa­ha­an perta­nian bertambah dari 4.011 tahun 2003 menjadi 5.486 perusahaan per tahun 20­13. “Karena itu, Hari Pangan Se­­dunia tak ubah­nya seperti H­a­ri Ketiadaan Pa­ngan,” jelas se­­orang maha­siswa UBH saat me­­nyampaikan orasi­nya. Se­dang­­kan mahasiswa UNP me­nga­jak seluruh kekua­tan rak­yat, baik di organisasi, po­litik dan sosial mendesak pe­me­rintah mewujudkan keta­ha­nan pangan nasional melalui upaya yang berfokus pada sisi pro­duk­si, kemandirian, dan kedau­la­tan pangan yang bero­rientasi pa­da peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

Mereka juga mendesak pe­me­rintah menjadikan eko­nomi ke­rakyatan sebagai kebijakan da­lam pelaksanaan pengem­ba­ngan perekonomian Indonesia melibatkan seluruh komponen rak­yat. “Saat ini ekonomi kerak­ya­­tan masih terbatas kepen­ti­ngan politik semata,” jelas Pre­si­den BEM UNP, Adnan Arafani Mu­hammad Bohori. “Seluruh kekuatan rakyat harus bersatu mendesak pemerintah segera me­laksanakan pembaruan agra­ria sebagai sendi utama dari pem­baruan lokal di Indonesia,” tam­bahnya.

Mereka juga menyarankan agar masyarakat bersatu melak­sanakan tujuh Gema Revita­li­sasi. Yaitu revitalisasi lahan, per­benihan dan pembibitan, in­frastruktur dan sarana, sum­ber da­ya manusia, pem­biayaan pe­ta­n­i, kelembagaan petani serta te­k­­­nologi dan industri hilir. (adi)

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=48195

Tidak ada komentar:

Posting Komentar